Centralmedianusa.com, TEMBILAHAN_INHIL – Penguatan gerakan perempuan membutuhkan lebih dari sekadar ruang berhimpun. Dibutuhkan kader yang berpengetahuan, berdaya secara mandiri, serta berani mengambil peran dalam menjawab persoalan masyarakat. Semangat inilah yang menjadi pijakan Nurhayati, calon Ketua Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Pengurus Cabang PMII Indragiri Hilir masa khidmat 2026–2027, dalam membawa gagasan pada Konferensi Cabang (Konfercab) IV PC PMII Indragiri Hilir, 12 Oktober 2026.
Melalui tagline “Berilmu, Berdaya, Bergerak,” Nurhayati menawarkan arah gerakan yang menempatkan KOPRI sebagai ruang pertumbuhan intelektual, penguatan kapasitas perempuan, dan penggerak perubahan sosial. Baginya, organisasi harus memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar struktur kepengurusan, agenda formal, dan kegiatan seremonial.
KOPRI diharapkan menjadi tempat kader perempuan mengasah kemampuan berpikir kritis, memperkuat solidaritas, serta membangun keberanian untuk terlibat dalam persoalan yang berkembang di tengah masyarakat. Dengan fondasi tersebut, kader tidak hanya dipersiapkan untuk menjalankan roda organisasi, tetapi juga untuk berkontribusi dalam ruang sosial yang lebih luas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Gagasan yang dibawa Nurhayati bertumpu pada lima agenda utama: kaderisasi, pemberdayaan, penguatan gerakan, kolaborasi, dan advokasi. Kelima agenda itu saling berkaitan dalam membangun organisasi yang memiliki arah perjuangan sekaligus kemampuan untuk menerjemahkan nilai-nilai gerakan menjadi langkah konkret.
Kaderisasi menjadi titik awal untuk membentuk perempuan yang memiliki wawasan, integritas, dan kecakapan berorganisasi. Pemberdayaan kemudian diarahkan untuk membuka ruang pengembangan potensi dan kemandirian. Adapun penguatan gerakan diharapkan menumbuhkan keberanian kader dalam menyampaikan gagasan, membangun solidaritas, dan mengambil posisi terhadap persoalan yang relevan dengan kehidupan perempuan.
Di tengah beragam tantangan sosial, kolaborasi juga menjadi unsur penting dalam memperluas dampak gerakan. KOPRI perlu membangun komunikasi dan kerja bersama dengan berbagai pihak agar gagasan pemberdayaan tidak berhenti dalam lingkup internal organisasi. Sementara itu, advokasi menjadi bagian dari upaya menghadirkan perhatian terhadap persoalan perempuan melalui pendekatan yang kritis, bertanggung jawab, dan sesuai kebutuhan.
Bagi Nurhayati, kesempatan perempuan untuk bersuara perlu berjalan seiring dengan peningkatan kualitas diri. Suara yang kuat harus ditopang oleh pengetahuan, keberanian yang disertai pertimbangan matang, serta kemampuan memahami persoalan secara menyeluruh.
Pandangan tersebut mengandung pesan bahwa perempuan bukan sekadar penerima manfaat dari sebuah gerakan. Perempuan juga harus memiliki kapasitas untuk menyusun gagasan, menentukan pilihan, membangun kerja bersama, dan terlibat langsung dalam proses perubahan.
Karena itu, KOPRI dituntut mampu menjaga keseimbangan antara penguatan internal dan kontribusi eksternal. Kaderisasi yang baik perlu menghasilkan kader yang siap bekerja, pemberdayaan harus mendorong kemandirian, dan advokasi perlu dibangun berdasarkan pemahaman terhadap persoalan yang dihadapi.
Tagline “Berilmu, Berdaya, Bergerak” menjadi ringkasan dari arah tersebut. Ilmu menjadi dasar berpikir dan bertindak, keberdayaan menjadi tujuan penguatan kapasitas, sedangkan gerakan menjadi bentuk nyata dari gagasan dan nilai perjuangan.
Konfercab IV PC PMII Indragiri Hilir pun menjadi momentum untuk memperbincangkan masa depan KOPRI, termasuk bagaimana organisasi ini dapat memperkuat kualitas kader perempuan sekaligus memperluas manfaatnya bagi masyarakat. Gagasan yang dibawa Nurhayati menghadirkan penekanan bahwa kemajuan organisasi perlu diukur bukan hanya dari aktivitasnya, melainkan juga dari kapasitas kader dan kontribusi yang dihasilkan.
Pada akhirnya, tantangan bagi setiap gagasan perubahan terletak pada konsistensi pelaksanaannya. KOPRI yang kritis, mandiri, progresif, dan berdaya membutuhkan kerja kolektif, program yang terarah, serta keberanian untuk menjadikan nilai perjuangan sebagai tindakan nyata.
(Eman)
Penulis : sulaiman
Editor : Sofian ang david









